Sejarah Warung HIK Solo: Asal Usul, Mbah Karso, dan Keunikan Angkringan Khas Solo
Pikiranrakyat.web.id - Warung HIK Solo memiliki sejarah panjang sebagai warung makan tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kota Solo, Jawa Tengah. Lebih dari sekadar tempat mengisi perut, HIK telah tumbuh menjadi simbol budaya kuliner yang bertahan lintas generasi.
Identik dengan suasana sederhana, harga terjangkau, serta keakraban antara penjual dan pembeli, warung HIK menghadirkan pengalaman makan yang egaliter. Di tempat ini, siapa pun bisa duduk berdampingan tanpa sekat, menikmati hidangan khas seperti nasi kucing, sate usus, gorengan, hingga aneka lauk sederhana lainnya.
Tak heran jika HIK juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial yang hidup dalam keseharian warga Solo.
Apa Itu Warung HIK?
HIK diyakini merupakan singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung. Warung ini umumnya berbentuk gerobak sederhana yang mulai beroperasi sejak sore hingga malam hari, bahkan ada yang buka hingga dini hari.
Menu yang ditawarkan cenderung sederhana dengan porsi kecil, seperti nasi kucing, sate-satean, gorengan, dan sundukan. Minuman hangat seperti wedang jahe, teh panas, kopi, hingga susu segar Boyolali menjadi pelengkap yang tak terpisahkan.
Kesederhanaan inilah yang justru menjadi daya tarik utama, menjadikan HIK sebagai tempat favorit pelajar, mahasiswa, pekerja malam, hingga masyarakat umum.
Sejarah Munculnya HIK di Solo
Sejarah warung HIK di Kota Surakarta dapat ditelusuri hingga awal abad ke-20, tepatnya pada masa kolonial Hindia Belanda. Pada tahun 1902, Kota Solo mulai dialiri listrik, yang membuat aktivitas malam hari semakin hidup.
Hiburan malam seperti layar tancap, bioskop di kawasan Sriwedari dan Kebonrojo, serta meningkatnya arus urbanisasi membuka peluang ekonomi baru. Banyak perantau dari daerah sekitar seperti Klaten datang ke Solo untuk mencari nafkah.
Mereka mulai menjajakan makanan ringan pada malam hari, terutama di pusat keramaian. Awalnya, dagangan tersebut dipikul atau dijinjing, bukan menggunakan gerobak seperti sekarang. Aktivitas ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya warung HIK.
Peran Mbah Karso Dikromo
Dalam perjalanan sejarah HIK, nama Mbah Karso Dikromo menjadi tokoh penting. Ia merupakan perantau asal Klaten yang mulai berdagang di Solo sekitar tahun 1930-an.
Pada awalnya, Mbah Karso menjual terikan, makanan berkuah khas Jawa Tengah. Seiring waktu, ia mulai mengembangkan usahanya dengan menjual berbagai minuman dan makanan ringan.
Inovasi tersebut membuat dagangannya semakin dikenal, hingga akhirnya berkembang menjadi konsep warung HIK seperti yang kita kenal saat ini. Menu seperti nasi kucing, sate jeroan, gorengan, dan wedangan menjadi ciri khas yang bertahan hingga sekarang.
Asal-usul istilah “HIK” sendiri memiliki beberapa versi. Ada yang menyebut berasal dari suara khas pedagang saat berkeliling, namun versi yang paling populer tetap merujuk pada singkatan Hidangan Istimewa Kampung.
HIK sebagai Ruang Sosial
Lebih dari sekadar tempat makan, warung HIK memiliki fungsi sosial yang kuat. Di sinilah masyarakat berkumpul, berbincang santai, berdiskusi, hingga menjalin relasi.
Konsep duduk berdekatan tanpa sekat menciptakan suasana yang hangat dan akrab. Tak hanya itu, istilah “wedhangan” yang sering digunakan masyarakat Solo juga menunjukkan bahwa HIK identik dengan budaya minum hangat sambil bersosialisasi.
Perbedaan HIK dan Angkringan
Meski sering dianggap sama, HIK dan angkringan memiliki perbedaan dari segi asal-usul dan penyebutan. HIK berasal dari Solo dan dikenal luas di wilayah Surakarta, sedangkan angkringan lebih identik dengan Yogyakarta.
Dari sisi menu, HIK identik dengan wedang jahe, susu segar Boyolali, serta nasi kucing dengan variasi lauk tertentu. Sementara angkringan Jogja terkenal dengan kopi joss dan nasi teri.
Meski demikian, konsep keduanya hampir serupa: menawarkan makanan sederhana, harga terjangkau, serta suasana santai yang terbuka untuk semua kalangan.
Warisan Budaya Takbenda
Pada tahun 2021, warung HIK resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Penetapan ini menjadi pengakuan atas nilai sejarah, budaya, dan sosial yang terkandung di dalamnya.
HIK bukan sekadar kuliner, melainkan representasi gaya hidup masyarakat Solo yang sederhana, egaliter, dan penuh kebersamaan.
Di tengah gempuran kuliner modern, warung HIK tetap bertahan sebagai simbol kehangatan malam Kota Solo tempat di mana siapa pun bisa duduk sejajar, menikmati hidangan sederhana, dan berbagi cerita tanpa batas. (nay)
