Ketika Guru Honorer Tertinggal dan Program MBG Menuai Tanda Tanya
Pikiranrakyat.web.id - Ada ironi yang sulit diabaikan dalam wajah pendidikan Indonesia hari ini. Di satu sisi, negara berbicara tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia, digitalisasi sekolah, hingga visi besar generasi emas. Namun di sisi lain, realitas di lapangan justru memperlihatkan ketimpangan yang mencolok terutama bagi mereka yang berada di garis depan: para guru honorer.
Bagaimana mungkin sistem pendidikan bisa berdiri kokoh jika penopangnya sendiri dibiarkan rapuh?
Guru Honorer: Mengajar dengan Dedikasi, Dibayar dengan Ketidakpastian
Guru honorer bukan sekadar pelengkap dalam sistem pendidikan. Di banyak daerah, mereka justru menjadi tulang punggung operasional sekolah. Mereka mengajar, membimbing, bahkan sering menggantikan peran yang seharusnya diisi tenaga tetap.
Namun, penghargaan terhadap mereka masih jauh dari layak.
Di tengah kenaikan harga kebutuhan hidup, masih banyak guru honorer yang menerima gaji jauh di bawah standar kelayakan. Ironisnya, dalam beberapa kasus, penghasilan mereka bahkan kalah dibandingkan relawan dalam program tertentu, termasuk yang belakangan ramai diperbincangkan: MBG.
Situasi ini bukan hanya soal angka, tetapi soal prioritas. Ketika orang yang mendidik generasi masa depan justru hidup dalam ketidakpastian, ada yang keliru dalam cara kita menyusun kebijakan.
MBG: Niat Baik yang Mengundang Pertanyaan
Program MBG (yang belakangan ramai diperbincangkan publik) pada dasarnya membawa semangat positif. Tujuannya jelas: membantu masyarakat, membuka peluang kerja, dan memperkuat aspek sosial tertentu.
Namun seperti banyak program besar lainnya, implementasi di lapangan tidak selalu berjalan mulus.
Di satu sisi, ada yang melihat MBG sebagai langkah progresif dan bentuk kehadiran negara. Tapi di sisi lain, muncul kritik yang tidak bisa diabaikan. Mulai dari transparansi anggaran, mekanisme pelaksanaan, hingga potensi penyimpangan yang membuka celah korupsi.
Yang menjadi persoalan bukan sekadar programnya, tetapi konsistensi kebijakan. Ketika relawan dalam program tertentu bisa mendapatkan insentif lebih baik dibanding guru honorer, publik wajar bertanya: apa sebenarnya yang sedang diprioritaskan?
Pendidikan vs Program Populer
Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting: pendidikan sering kali kalah oleh program-program yang lebih “terlihat”. Program yang cepat terlihat hasilnya, mudah dipublikasikan, dan memiliki daya tarik politis cenderung mendapatkan perhatian lebih besar.
Sementara pendidikan adalah kerja sunyi. Hasilnya tidak instan, tidak viral, dan tidak selalu bisa diklaim dalam satu periode kebijakan.
Padahal, justru di situlah letak fondasi sebuah bangsa.
Jika pendidikan terus diposisikan sebagai sektor sekunder, maka ketimpangan seperti ini akan terus berulang. Guru honorer akan tetap berjuang dalam diam, sementara program-program baru terus bermunculan tanpa evaluasi yang mendalam.
Antara Harapan dan Realita
Bukan berarti semua program pemerintah harus dicurigai. MBG bisa saja menjadi program yang baik jika dikelola dengan transparan, tepat sasaran, dan bebas dari kepentingan sempit.
Namun, kebaikan sebuah program tidak boleh berdiri sendiri tanpa melihat konteks yang lebih luas.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Ia tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan program bantuan atau proyek sosial lain. Tetapi justru karena itulah, ia harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap.
FAQ Seputar Pendidikan dan Program MBG
1. Mengapa gaji guru honorer masih rendah di Indonesia?
Karena status honorer tidak memiliki standar penggajian nasional yang kuat. Banyak bergantung pada anggaran daerah atau sekolah, sehingga tidak merata dan seringkali minim.
2. Apa sebenarnya program MBG itu?
MBG adalah program yang bertujuan memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat, termasuk membuka peluang kerja. Namun implementasinya masih menuai pro dan kontra.
3. Kenapa program seperti MBG dibandingkan dengan gaji guru?
Perbandingan muncul karena adanya ketimpangan insentif. Ketika relawan program tertentu mendapat bayaran lebih layak, sementara guru honorer tidak, publik mulai mempertanyakan prioritas kebijakan.
4. Apakah MBG program yang buruk?
Tidak selalu. Program ini bisa berdampak positif jika dijalankan dengan transparan, tepat sasaran, dan diawasi dengan baik.
5. Apa dampak rendahnya kesejahteraan guru terhadap pendidikan?
Dampaknya besar, mulai dari menurunnya kualitas pengajaran, motivasi kerja, hingga ketidakstabilan tenaga pendidik di sekolah.
Pertanyaan yang Perlu Kita Renungkan
- Apakah pendidikan benar-benar menjadi prioritas utama dalam kebijakan negara?
- Mengapa profesi guru, khususnya honorer, masih belum mendapatkan penghargaan yang layak?
- Apakah program-program baru sudah melalui evaluasi yang matang sebelum dijalankan?
- Siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari kebijakan yang ada saat ini?
- Dan yang paling penting, apakah kita sedang membangun masa depan, atau hanya memperbaiki citra sesaat?
Penutup
Pendidikan Indonesia hari ini sedang menghadapi ujian yang tidak sederhana. Bukan hanya soal kurikulum atau fasilitas, tetapi soal keberpihakan.
Selama guru honorer masih harus bertahan dengan penghasilan yang tidak layak, sementara program-program lain terus mendapatkan panggung utama, maka sulit mengatakan bahwa sistem ini sedang berjalan dengan baik.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita punya program yang bagus, tetapi apakah kita berani menempatkan pendidikan di posisi yang semestinya.
Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak dibangun dari program yang ramai dibicarakan, tetapi dari ruang kelas yang sering kali dilupakan.
"Salam Akal Sehat"
