BREAKING NEWS

“Ngenger” Tradisi Lama yang Membentuk Kemandirian, Kini Mulai Menghilang

Ilustrasi anak tinggal bersama keluarga lain dalam tradisi ngenger di Jawa untuk belajar mandiri dan disiplin sejak kecil

Pikiranrakyat.web.id - Banyak dari kita tumbuh dengan cerita orang tua atau kakek-nenek tentang kerasnya kehidupan di masa lalu. Sekilas, hal itu terdengar janggal. Pasalnya, kebutuhan hidup saat itu tampak sederhana sebatas sandang, pangan, dan papan. Namun realitas yang dihadapi masyarakat kala itu jauh dari kata mudah.

Ketersediaan pangan sering kali terbatas. Makan nasi sekali sehari pun belum tentu bisa dinikmati. Sebagai pengganti, masyarakat mengandalkan ketela atau jagung. Jika pun ada, makanan harus dibagi rata untuk seluruh anggota keluarga. Kondisi ini terjadi meskipun pada masa itu lahan pertanian masih luas dan relatif mudah diakses.

Kebutuhan sandang pun tidak kalah sulit. Memiliki pakaian baru menjadi hal yang istimewa dan hanya terjadi pada momen tertentu, seperti Lebaran itu pun jika kondisi ekonomi keluarga memungkinkan. Di sisi lain, belum populernya program pengendalian kelahiran membuat banyak keluarga memiliki lebih dari tiga anak, sehingga beban ekonomi semakin berat.

Ngenger, Solusi Sosial di Tengah Keterbatasan

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Jawa mengenal sebuah tradisi yang disebut ngenger. Praktik ini cukup umum dijumpai di wilayah seperti Watulimo, Trenggalek, dan daerah lain di sekitarnya.

Ngenger adalah praktik menitipkan satu atau dua anak kepada keluarga lain yang dinilai lebih mampu, baik secara ekonomi maupun dari sisi karakter dan pola pikir. Biasanya, keluarga yang dituju masih memiliki hubungan kekerabatan, meskipun tidak selalu dekat.

Namun, ngenger bukan semata-mata solusi ekonomi. Orang tua juga mempertimbangkan nilai-nilai yang dimiliki keluarga tujuan, seperti etos kerja, kedisiplinan, dan cara berpikir. Harapannya, anak yang dititipkan tidak hanya terpenuhi kebutuhannya, tetapi juga tumbuh dengan karakter yang kuat.

Proses Pembentukan Karakter dan Kemandirian

Bagi anak-anak yang menjalani ngenger, kehidupan sehari-hari menjadi ruang belajar yang nyata. Mereka dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun relasi sosial, serta memahami nilai disiplin dan tanggung jawab.

Berbeda dengan tinggal bersama orang tua yang memungkinkan sikap manja, anak yang ngenger cenderung memiliki rasa sungkan untuk bermalas-malasan. Mereka sadar bahwa dirinya “menumpang”, sehingga harus berkontribusi dalam kehidupan rumah tangga.

Tradisi ini juga memberikan bekal keterampilan hidup. Mulai dari merawat diri sendiri, membersihkan rumah, hingga mempelajari keahlian praktis seperti bertani, menjadi tukang kayu, tukang bangunan, atau berdagang. Keterampilan tersebut diperoleh secara langsung dari keluarga tempat mereka tinggal dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman saat itu.

Bukan Sekadar Menumpang

Perlu dipahami, ngenger berbeda dengan konsep indekos yang bersifat transaksional. Dalam ngenger, hubungan yang terjalin didasarkan pada nilai kekeluargaan.

Anak yang dititipkan memiliki hak dan kewajiban layaknya anggota keluarga. Ia membantu pekerjaan rumah tangga sebagai bentuk kontribusi, sementara keluarga yang ditumpangi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak jarang, hubungan ini berkembang lebih dalam hingga anak tersebut dianggap sebagai bagian keluarga sendiri, bahkan diangkat sebagai anak.

Kontras dengan Kehidupan Modern

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, tantangan hidup tampak berbeda. Lahan pertanian semakin terbatas, harga pangan dan properti meningkat, dan kebutuhan hidup semakin kompleks tidak lagi hanya sandang, pangan, dan papan, tetapi juga listrik, air, dan internet.

Namun di sisi lain, teknologi telah membawa kemudahan yang luar biasa. Produksi pangan menjadi lebih efisien, musim tidak lagi menjadi batasan utama, dan berbagai kebutuhan dapat diakses dengan cepat. Bahkan dalam bidang konstruksi, teknologi seperti 3D printing mulai digunakan untuk membangun hunian secara lebih praktis.

Ketika Kemandirian Justru Mulai Luntur

Seiring meningkatnya kesejahteraan dan adanya program pengendalian keluarga, tradisi ngenger kini hampir tidak lagi ditemukan. Anak-anak tumbuh sepenuhnya dalam lingkup keluarga inti.

Ironisnya, di tengah kemudahan tersebut, tidak sedikit anak yang justru kurang memiliki kemandirian dasar. Hal-hal sederhana seperti merawat diri, membersihkan kamar, atau mengelola tanggung jawab pribadi masih menjadi tantangan.

Pola asuh keluarga berperan besar dalam hal ini. Cara anak merespons lingkungan apakah sigap merapikan atau justru mengabaikan sering kali mencerminkan kebiasaan yang dibentuk sejak kecil.

Di era serba instan, ketergantungan terhadap teknologi juga semakin tinggi. Kebutuhan makan, misalnya, bisa dipenuhi hanya dengan beberapa klik. Namun dalam situasi yang menuntut kemampuan bertahan hidup, keterampilan dasar tetap menjadi hal yang tak tergantikan.

Lebih dari Sekadar Tradisi

Pada akhirnya, ngenger bukan sekadar praktik menitipkan anak kepada orang lain. Ia adalah sistem sosial yang membentuk karakter, menanamkan disiplin, serta melatih kemandirian sejak dini.

Meski tradisi ini mulai menghilang, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan hingga kini. Di tengah dunia yang semakin modern dan praktis, pelajaran tentang tanggung jawab dan kemandirian justru menjadi semakin penting.

Ngenger pada hakikatnya bukan tentang ketergantungan, melainkan tentang persiapan menghadapi kehidupan.

"Salam Lestari"
Posting Komentar
ADVERTISEMENT
Designed by Pikiranrakyat
ADVERTISEMENT
Designed by Pikiranrakyat