Kata-Kata Kota Kita: Dari Spanduk Kampanye sampai Obrolan Warung Kopi
0 menit baca
![]() |
| Ilustrasi |
Pikiranrakyat.web.id - Kota selalu berbicara. Bukan lewat pidato wali kota atau baliho peresmian proyek semata, tapi lewat hal-hal kecil yang sering kita anggap remeh. Coretan di tembok, spanduk diskon yang sudah kusam, keluhan sopir angkot, hingga obrolan warung kopi yang tak pernah tercatat dalam risalah rapat apa pun.
Kata-kata itu berserakan di sudut kota, hidup, dan membentuk cara kita memahami ruang tempat tinggal sendiri. Kota bukan hanya beton dan aspal, melainkan kumpulan kalimat yang terus diulang setiap hari.
Ambil contoh spanduk. Di musim politik, spanduk kampanye berjejer rapi. Janjinya mirip-mirip: perubahan, keberpihakan, kesejahteraan. Setelah pemilu usai, spanduk itu pelan-pelan robek, warnanya pudar, dan akhirnya jadi latar belakang tukang tambal ban. Kata-katanya masih ada, tapi maknanya sudah bergeser.
Di luar musim politik, kota tetap cerewet. Spanduk penawaran kredit motor, poster kos-kosan, sampai selebaran pinjaman online saling berebut ruang pandang. Semua ingin didengar. Semua merasa paling penting.
Namun, kata-kata kota yang paling jujur justru sering muncul di tempat paling sederhana. Warung kopi, misalnya. Di sana, kota berbicara apa adanya. Keluhan soal jalan rusak, harga beras, gaji yang tak naik-naik, sampai gosip tetangga, bercampur tanpa sensor. Tak ada moderator. Tak ada siaran ulang. Tapi di situlah denyut kota terasa paling nyata.
Kata-kata kota juga hidup di transportasi umum. Di dalam bus atau angkot, percakapan orang asing bisa mendadak terasa akrab. Topiknya bisa meloncat dari cuaca, kebijakan pemerintah, sampai rumor lowongan kerja. Kota, dalam hal ini, bukan ruang anonim. Ia adalah tempat orang-orang saling berbagi nasib, meski hanya selama beberapa halte.
Media sosial membuat kata-kata kota semakin gaduh. Keluhan yang dulu hanya berhenti di warung kini bisa viral dalam hitungan jam. Lubang jalan, antrean layanan publik, hingga sikap pejabat bisa menjadi bahan diskusi massal. Kota berubah menjadi lini masa, tempat semua orang merasa punya hak bicara.
Masalahnya, tidak semua kata-kata kota didengar dengan serius. Ada yang dianggap angin lalu, ada yang ditertawakan, ada pula yang sengaja diabaikan. Padahal, dari kata-kata itulah kita bisa membaca arah kota bergerak. Apakah ia ramah bagi warganya, atau justru makin menjauh.
Kota yang sehat bukan kota yang sepi kritik, melainkan kota yang mau mendengar. Kata-kata warga, betapapun berantakannya, adalah bentuk partisipasi paling jujur. Ia tidak lahir dari konferensi pers, tapi dari pengalaman sehari-hari.
Sayangnya, sering kali kota hanya mau mendengar kata-kata resmi. Yang bersih, rapi, dan sesuai protokol. Sementara suara warga di pinggir jalan dianggap terlalu berisik. Terlalu emosional. Terlalu tidak penting.
Padahal, sejarah kota-kota besar menunjukkan bahwa perubahan justru sering dimulai dari gumaman kecil. Dari obrolan, keluhan, dan sindiran yang terus diulang hingga tak bisa lagi diabaikan. Kota dibentuk bukan hanya oleh kebijakan, tapi juga oleh kata-kata yang terus diperjuangkan warganya.
Maka, ketika kita membaca kota, jangan hanya lihat bangunannya. Dengarkan juga kata-katanya. Dari sana, kita tahu apakah kota ini benar-benar milik kita, atau hanya sekadar tempat tinggal sementara.
Karena pada akhirnya, kota yang baik bukan kota yang paling banyak baliho, tapi kota yang paling mau mendengar.(red)
