Rumah Besar yang Tak Pernah Dihuni: Gengsi, TKI, dan Ironi Migrasi di Pati–Rembang
0 menit baca
Pikiranrakyat.web.id - Seorang TKI dan TKW di Pati dan Rembang seolah “dituntut” menunjukkan kesuksesan simbolis dari hasil kerja mereka di luar negeri. Salah satu penanda paling kentara adalah membangun rumah besar dan mewah di desa asal. Jika tidak, kerja jauh-jauh ke Malaysia, Singapura, atau Taiwan kerap dianggap sia-sia.
Akibatnya, tak sedikit TKI dan TKW dari Pati dan Rembang dua kabupaten bertetangga di pesisir utara Jawa Tengah berlomba membangun rumah megah. Ironinya, rumah itu sering kali hanya selesai dibangun, tanpa pernah benar-benar dihuni dan dinikmati pemiliknya. Tuntutan hidup terus menumpuk, nyaris tanpa jeda.
Pati dan Rembang sendiri tercatat sebagai dua daerah penyumbang TKI dan TKW terbesar di Jawa Tengah. Berdasarkan statistik kumulatif 2024–2025 dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, Pati menempati peringkat ke-8 dengan 3.015 pekerja migran. Tujuan utama mereka adalah Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang.
Sementara itu, Rembang berada di posisi ke-14 dengan total 1.880 pekerja migran, mayoritas menuju Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Bekerja ke luar negeri menjadi pilihan rasional ketika nilai Rupiah dianggap tak lagi menjanjikan bagi kehidupan keluarga di kampung.
Secara historis, migrasi warga Pati dan Rembang ke luar negeri telah berlangsung sejak 1980-an. Namun gelombang terbesarnya terjadi pasca krisis moneter 1998. Pola migrasi pun berubah, dari merantau antardaerah menjadi migrasi internasional. Melemahnya nilai tukar Rupiah menjadi pemicu utama perubahan tersebut.
Keberangkatan ke luar negeri difasilitasi oleh agen penyalur hingga kehadiran Kantor Imigrasi di Pati yang kini melayani wilayah eks Karesidenan Pati. Migrasi kerja menjadi sesuatu yang terstruktur dan dinormalisasi.
Di sejumlah desa di Rembang, terutama Kecamatan Sluke, rumah-rumah besar berdiri gagah namun kosong. Lampu hanya menyala temaram di pelataran. Rumah itu sekadar dibersihkan sesekali oleh kerabat, tanpa kehidupan di dalamnya.
Badar (50-an), mantan TKI asal Rembang, bercerita pernah mengalami hal serupa. Ia bekerja di Malaysia sejak awal 1990-an dan membangun rumah joglo besar di desa. Rumah itu mangkrak bertahun-tahun sebelum akhirnya dihuni setelah ia menikah. Fenomena rumah kosong, menurut Badar, masih lazim hingga kini.
Bagi Badar, membangun rumah besar adalah simbol kesuksesan yang nyaris wajib bagi TKI dan TKW. Jika bertahun-tahun bekerja di luar negeri tanpa rumah megah atau kendaraan baru, cap “gagal” mudah dilekatkan oleh tetangga dan kerabat.
Fenomena ini sejalan dengan konsep conspicuous consumption yang dikemukakan Thorstein Veblen. Rumah besar bukan dibangun atas dasar fungsi, melainkan gengsi. Ia menjadi penanda kenaikan kelas sosial.
Cerita serupa disampaikan Atini (40), mantan TKW asal Pati yang bekerja di Taiwan sejak 2010 dan pulang permanen pada 2022. Ia menyebut seorang TKW di desanya meninggal di perantauan tanpa sempat menikmati rumah besar hasil kerja bertahun-tahun.
Atini mengaku dulu juga terjebak dalam logika yang sama. Ia hanya bisa memantau pembangunan rumah lewat telepon, tanpa pernah benar-benar tinggal di dalamnya. Pulang kampung hanyalah jeda singkat sebelum kembali bekerja.
Di desa Atini, ukuran sukses tetap kasat mata. Rumah besar, mobil, atau motor mahal menjadi tolok ukur. Sementara kerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari jarang dianggap sebagai pencapaian.
Tuntutan itu nyaris tak berujung. Banyak TKI dan TKW akhirnya bertahan di luar negeri bukan semata karena kebutuhan ekonomi, tetapi demi menjaga gengsi sosial. Standar “sukses” terus bergeser, memaksa mereka terus bekerja.
Fenomena ini membuat banyak pekerja migran terjebak dalam siklus panjang kerja di luar negeri tanpa persiapan masa depan. Konsumsi non-prioritas menggerus kesempatan membangun ketahanan ekonomi setelah pulang.
Akibatnya, tak sedikit warga lanjut usia yang masih bekerja di luar negeri karena tak memiliki jaring pengaman. Rumah besar sudah berdiri, tetapi kehidupan setelah pensiun tak pernah benar-benar dipikirkan.
Rumah-rumah megah itu akhirnya menjadi monumen sunyi. Berdiri kokoh di desa, tetapi menyimpan kisah keterpisahan, tuntutan sosial, dan kerja tanpa akhir.(red)
