BREAKING NEWS

Ditipu Kawan Sendiri, Salah Otak atau Salah Percaya?

Ketika Otak Mematikan Radar: Mengapa Penipuan Justru Datang dari Orang Terdekat
Mengapa Kita Lebih Mudah Ditipu oleh Kawan Sendiri FOTO/iStockphoto

Pikiranrakyat.web.id - Kasus tipu-menipu tidak selalu menyasar orang asing. Justru, dalam banyak peristiwa, pelaku paling potensial adalah kawan sendiri. Orang yang kita kenal, kita percaya, bahkan kita libatkan dalam ruang paling personal dalam hidup.

Medio dekade 2010-an silam, seorang pemilik rumah makan di Surakarta berkenalan dengan sesama pengusaha, seorang pedagang batik. Awalnya, hubungan itu berjalan wajar. Si pedagang batik kerap datang sekadar makan, mengobrol, bahkan membawa keluarganya. Hubungan sosial yang cair perlahan berubah menjadi pertemanan.

Kepercayaan tumbuh. Pemilik rumah makan mulai membuka cerita, termasuk soal anak sulungnya yang tak kunjung menyelesaikan studi. Pedagang batik itu ikut menasihati, menunjukkan empati, tampil sebagai kawan yang peduli.

Masalah muncul ketika si pedagang batik menawarkan bantuan mengurus pendaftaran hak merek rumah makan tersebut. Alih-alih mendaftarkannya atas nama pemilik, merek itu justru didaftarkan atas namanya sendiri. Diam-diam, ia berupaya menguasai usaha tersebut lewat jalur hukum.

Beruntung, si pemilik rumah makan segera menyadari niat tersebut. Ia memilih jalan penyelamatan dengan melakukan pencitraan ulang total. Nama, logo, dan warna diubah. Usaha itu bertahan dan kini mendekati usia dua dekade. Kisah ini nyata. Saya menjadi saksi matanya.

Cerita serupa bukan satu-dua kali terjadi. Seorang kawan dekat saya pernah melihat ayahnya ditipu rekan bisnis sendiri dalam usaha dealer mobil hingga merugi miliaran rupiah. Bahkan, Dahlan Iskan pernah berseloroh bahwa pengusaha sukses adalah mereka yang pernah ditipu.

Ironisnya, penipuan semacam ini justru berakar dari satu hal: rasa percaya.

Apa yang sebenarnya terjadi pada otak manusia ketika ditipu kawan sendiri? Pertanyaan ini dijawab oleh sejumlah ilmuwan dari North China University of Science and Technology dalam sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience pada Oktober 2025.

Penelitian itu melibatkan 132 partisipan yang dipasangkan antara teman dekat dan orang asing. Dengan teknologi pemindaian otak fNIRS hyperscanning, peneliti memantau aktivitas saraf dua orang secara bersamaan saat mereka berinteraksi dalam permainan yang melibatkan kejujuran dan tipu daya.

Hasilnya menarik. Ketika dua orang yang sudah saling mengenal berinteraksi, otak mereka menunjukkan sinkronisasi yang jauh lebih kuat dibandingkan pasangan orang asing. Fenomena ini disebut Interpersonal Neural Synchrony, kondisi ketika gelombang otak dua individu bergerak dalam ritme yang sama.

Pada titik ini, otak manusia cenderung mematikan mode evaluasi kritis. Aktivitas di Dorsolateral Prefrontal Cortex, bagian otak yang berperan sebagai “radar” kewaspadaan dan penilaian risiko, justru menurun. Sebaliknya, Orbitofrontal Cortex yang mengelola persepsi keuntungan dan imbalan menjadi lebih dominan dan tersinkronisasi.

Singkatnya, saat berhadapan dengan orang yang kita percaya, otak lebih fokus pada potensi kerja sama daripada potensi ancaman. Dalam kasus rumah makan di Surakarta, tawaran bantuan pendaftaran merek menjadi pemicu. Otak sang pemilik melihat peluang, bukan bahaya.

Menariknya, pola sinkronisasi saraf ini mampu memprediksi kemungkinan terjadinya penipuan hingga 86,66 persen. Artinya, sebelum seseorang sadar telah ditipu, otaknya lebih dulu menurunkan pertahanan kognitif. Penipuan semacam ini bukan sekadar rekayasa sosial, melainkan bisa disebut sebagai peretasan biologis.

Namun, menurunnya kewaspadaan tidak otomatis membuat seseorang bodoh atau naif. Justru sebaliknya. Tanpa kerentanan, manusia tidak akan mampu membangun relasi sosial. Otak manusia dirancang untuk hemat energi. Meski hanya dua persen dari berat tubuh, ia menghabiskan hampir 20 persen energi harian.

Penelitian tentang metabolisme otak menunjukkan bahwa otak secara alami akan meminimalkan aktivitas kognitif berat jika suatu informasi dianggap selaras dengan pengalaman sebelumnya. Dalam konteks ini, kepercayaan adalah mekanisme penghematan energi.

Psikolog Timothy Levine menyebutnya sebagai Truth-Default Theory. Manusia, secara bawaan, cenderung menganggap informasi dari orang lain sebagai benar. Kita baru akan bersikap curiga jika ada bukti kuat yang memaksa otak bekerja lebih keras.

Masalahnya, mekanisme ini juga membuka celah pengkhianatan. Karena itu, para ilmuwan kognitif memperkenalkan konsep epistemic vigilance, kewaspadaan internal yang bekerja diam-diam. Kita tidak perlu curiga pada semua orang, tetapi perlu batasan yang jelas.

Peneliti Brené Brown menyebutnya sebagai boundaries. Kepercayaan hanya sehat jika kita tahu dengan tegas apa yang boleh dan tidak boleh dilanggar.

Mungkin Dahlan Iskan benar. Ditipu adalah “biaya” yang kerap harus dibayar dalam perjalanan sukses. Namun pengalaman itulah yang meng-upgrade setelan pabrik otak kita. Kita tetap bisa percaya, tetapi dengan penyaringan yang lebih presisi.

Karena pada akhirnya, hidup tanpa percaya akan melelahkan. Tetapi percaya tanpa batas, terlalu berisiko.(red)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar